Main Article Content

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami fenomena baralek di jalan sebagai bentuk transformasi sosial dan budaya masyarakat Minangkabau dalam perspektif ekonomi Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi dengan memusatkan perhatian pada pengalaman subjektif para driver transportasi daring dan konvensional yang terdampak oleh praktik pesta di jalan umum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi ini lahir dari perubahan struktur ruang hidup dan modernisasi sosial, yang menggeser makna pesta dari ruang domestik menuju ruang publik. Dalam konteks adat Minangkabau, praktik tersebut merefleksikan dinamika nilai gotong royong dan solidaritas sosial yang beradaptasi terhadap keterbatasan lahan dan tuntutan zaman. Dari perspektif Islam, fenomena ini mengandung persoalan moral tentang keadilan, kemaslahatan, dan tanggung jawab sosial. Konsep milkiyyah ‘ammah (kepemilikan publik), ‘adl (keadilan), dan maslahah ‘ammah (kemaslahatan umum) menjadi landasan etis untuk menilai penggunaan jalan sebagai ruang sosial. Sementara dalam perspektif ekonomi syariah, praktik baralek di jalan menunjukkan adanya dialektika antara kepentingan individu dan kemaslahatan kolektif yang harus diatur melalui prinsip maqasid al-syari‘ah, terutama ḥifẓ al-māl, ḥifẓ an-nafs, dan ḥifẓ al-‘ird. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tradisi lokal seperti baralek di jalan dapat dipertahankan sebagai warisan budaya, sepanjang tetap selaras dengan nilai syariat Islam dan menjaga keseimbangan antara adat, agama, dan tanggung jawab sosial-ekonomi masyarakat.

Keywords

Adat Minangkabau Baralek di Jalan Fenomenologi Ekonomi Syariah Maqasid al-Syari‘ah

Article Details

How to Cite
Witri, W., Fahlefi, R., & Lutfi, A. (2025). Preferensi Driver Terhadap Pelaksanaan Pesta Pernikahan Di Jalan Umum Dan Tinjaunnya Dalam Perspektif Ekonomi Islam. Economics and Digital Business Review, 7(1). Retrieved from https://ojs.stieamkop.ac.id/index.php/ecotal/article/view/3309

References

  1. Al-Ghazali, A. H. (1993). Ihya’ Ulum al-Din. Beirut: Dar al-Ma‘rifah.
  2. Al-Qardhawi, Y. (1991). Fiqh al-Daulah fi al-Islam. Cairo: Dar al-Shuruq.
  3. Al-Qardhawi, Y. (1995). Fiqh al-Zakah: A Comparative Study of Zakah, Regulations and Philosophy in the Light of Qur’an and Sunnah. Jeddah: Scientific Publishing Centre, King Abdul Aziz University.
  4. Al-Qardhawi, Y. (2001). Fiqh al-Maqāṣid: Dirāsah Jadīdah fī al-Maqāṣid al-Sharī‘ah al-Islāmiyyah. Kairo: Dar al-Syuruq.
  5. Al-Qur’an al-Karim.
  6. Asmaniar, A. (2018). Perkawinan adat Minangkabau. Binamulia Hukum, 7(2), 131–140. https://doi.org/10.37893/jbh.v7i2.23
  7. Auda, J. (2008). Maqasid al-Shariah as Philosophy of Islamic Law: A Systems Approach. London: The International Institute of Islamic Thought (IIIT).
  8. Chapra, M. U. (1992). Islam and the Economic Challenge. Leicester: The Islamic Foundation.
  9. Chapra, M. U. (2000). The Future of Economics: An Islamic Perspective. Leicester: The Islamic Foundation.
  10. Dayanti, R., & Hidayat, M. (2023). Bentuk perubahan solidaritas sosial pada penyelenggaraan pesta pernikahan sebagai dampak hadirnya jasa catering. Jurnal Perspektif, 6(1), 135–142. https://doi.org/10.24036/perspektif.v6i1.724
  11. Departemen Agama Republik Indonesia. (2010). Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an.
  12. Fathurrahman, A. (2019). Filantropi Islam dan Pembangunan Sosial: Analisis Konseptual dan Empiris. Jakarta: UIN Jakarta Press.
  13. Habermas, J. (1991). The Structural Transformation of the Public Sphere: An Inquiry into a Category of Bourgeois Society. Cambridge, MA: MIT Press.
  14. Husserl, E. (1931). Ideas: General Introduction to Pure Phenomenology. London: Allen & Unwin.
  15. Husserl, E. (1970). The Crisis of European Sciences and Transcendental Phenomenology. Evanston: Northwestern University Press.
  16. Ibn Mājah. (n.d.). Sunan Ibn Mājah. Riyadh: Darussalam.
  17. Kahf, M. (1999). The Islamic Economy: Analytical Study of the Functioning of the Islamic Economic System. Jeddah: Islamic Research and Training Institute (IRTI).
  18. Khusaini, M. (2019). Ekonomi Publik. Malang: UB Press.
  19. Mankiw, N. G. (2020). Principles of Economics (9th ed.). Boston, MA: Cengage Learning.
  20. Moleong, L. J. (2017). Metodologi Penelitian Kualitatif (Edisi Revisi). Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
  21. Moustakas, C. (1994). Phenomenological Research Methods. Thousand Oaks, CA: Sage Publications.
  22. Naim, M. (2013). Adat Minangkabau dan Perubahan Sosial. Padang: Andalas University Press.
  23. Navis, A. A. (1986). Alam Terkembang Jadi Guru: Adat dan Kebudayaan Minangkabau. Jakarta: Pustaka Grafitipers.
  24. Norrahman, M., Aisy, M. B. H., Azhar, M. R., Yolanda, R., & Khalishah, M. (2025). Tinjauan hukum terhadap penutupan jalan tanpa izin oleh warga saat pesta pernikahan di Indonesia. Jimmi: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Multidisiplin, 2(2), 191–206. https://doi.org/10.71153/jimmi.v2i2.281
  25. Schutz, A. (1967). The Phenomenology of the Social World. Evanston: Northwestern University Press.
  26. Siagian, H. S. (2024). Pengawasan Dinas Perhubungan Kota Padangsidimpuan dalam penertiban penggunaan jalan untuk pesta pernikahan berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 41 Tahun 2003. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 8(1), 45–56.
  27. Sugiyono. (2019). Metode Penelitian Kualitatif, Kuantitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.
  28. Suyono, H. (2018). Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah: Harmoni Nilai Islam dalam Tradisi Minangkabau. Padang: Lembaga Kajian Adat Minangkabau.
  29. Umar, H. (2021). Metodologi Penelitian untuk Skripsi dan Tesis Bisnis. Jakarta: Rajawali Pers.
  30. Zarkasyi, H. F. (2019). Etika Sosial dalam Perspektif Islam. Jakarta: Gema Insani Press.